Kamis, 22 Desember 2016 - 10:57:22 WIB
Tahun 2017, Jarwo Super 10 Ribu Hektar di 10 Propinsi Termasuk NTB
Diposting oleh : Syamsul Riyadi,STP
Kategori: Penyuluhan Pertanian - Dibaca: 548 kali

Pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian akan memperluas cara bercocok tanam Jarwo Super. Setidaknya ada 10 provinsi sentra pangan menjadi konsentrasi pengembangan teknologi terbaru dalam budidaya tanaman padi tersebut. Luasnya sekitar 10 ribu hektar (ha).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, M. Syakir mengatakan, ke 10 propinsi tersebut diantaranya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan NTB. Sepuluh propinsi tersebut selama ini memberikan kontribusi besar terhadap produksi padi nasional.

“Jika produksi di 10 propinsi meningkat, maka akan ada lompatan produksi padi nasional,” katanya saat Panen Perdana Teknologi Jarwo Super di Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Subang, Selasa (22/11). Dari hasil uji coba Tahun 2016, produktifitas padi dengan budidaya Jarwo Super mencapai 9-10 ton/ha, bahkan ada yang di atas 10 ton/ha.

Syakir berharap, teknologi Jarwo Super menjadi jawaban dalam upaya pemerintah mencapai kedaulatan pangan yang berkelanjutan. Apalagi kini banyak tantangan dalam peningkatan produksi padi. Misalnya, luas areal sawah di Indonesia hanya 8,2 juta ha. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi dibandingkan pertambahan luas sawah.

“Karena itu kami konsentrasi dalam peningkatan produktifitas tanaman yang nantinya bermuara pada peningkatan pendapatan petani. Kita lakukan modernisasi pertanian dari mulai cara tanam hingga pasca panen,” kata dia.

Sumber Benih

Syakir mengungkapkan, luasan 10 ribu ha tersebut bukan hanya untuk pengembangan teknologi Jarwo Super, tapi juga menyiapkan benih unggul. Kalkulasinya jika tiap satu hektar menghasilkan 5 ton benih atau 50% dari produktifitas (10 ton/ha), maka dari 10 ribu ha diharapkan akan ada sebanyak 50 ribu ton benih.

“Jadi sekali kerjaan, dua kegiatan bisa kita laksanakan. Artinya kegiatan kita sifatnya bukan parsial, tapi simultan. Dari mulai pengembangan teknologi budidaya hingga penyediaan varietas unggul,” katanya

Dengan demikian, tiap propinsi yang menjadi lokasi pengembangan Jarwo Super nantinya menghasilkan benih unggul sendiri alias mandiri benih, sehingga mengurangi biaya pengiriman benih. Bahkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di tiap propinsi, bukan hanya menghasilkan benih sumber tapi juga benih sebar.

“Sudah ada Surat Keputusan Menteri Pertanian Menteri Pertanian agar kita juga memproduksi benih sebar. Ini agar efektifitas penyerapan benih unggul ke petani,” kata Syakir.

Benih unggul yang digunakan pada budidaya Jarwo Super adalah varietas Inpari 30 Ciherang Sub-1, Inpari 32 HDB dan varietas Inpari 33. Ketiga varietas tersebut menurut Syakir mempunyai keunggulan. Inpari 30 Ciherang Sub-1 merupakan varietas amphibi yang bisa tahan terhadap genangan air selama dua minggu.  Inpari 32 HDB tahan terhadap hawar daun bakteri. Inpari 33 tahan terhadap hama wereng. “Meski telah merekomendasikan varietas unggul, kita juga mengakomodir varietas unggul lokal,” katanya.

Selain benih unggul, aplikasi dalam budidaya Jarwo Super yang harus diterapkan petani adalah penggunaan biodekomposer sebelum pengolahan tanah. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu.

Teknologi lainnya adalah pengunaan pupuk hayati dan berimbang, penanganan hama dan penyakit dengan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali. Untuk mengurangi kehilangan hasil saat panen menggunakan alsintan, khususnya transplanter dan combine harvester

Sementara itu Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron meminta, pemerintah lebih memasifkan sosialisasi teknologi Jarwo Super ini. "Mungkin petani sudah mendengar, tapi suaranya masih sayup-sayup," ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan UU No. 18 Tahun 2012 ada lima kunci mencapai ketahanan pangan. Yakni, tanah. Saat ini kita menghadapi persoalan makin sempitnya lahan pertanian karena terkonversi untuk kegiatan lain, seperti jalan dan perumahan.Kunci lainnya adalah air, benih, pupuk dan pengolahan lahan pertanian.

sumber berita : http://tabloidsinartani.com/read-detail/read/tahun-2017-jarwo-super-10-ribu-hektar-di-10-propinsi/



0 Komentar :