Jumat, 03 Oktober 2014 - 09:38:51 WIB
Panen Raya dan Farmer Field Day Demplot Cabe Keriting di Kecamatan Peringgarata Kab. Lombok Tengah
Diposting oleh : Syamsul Riyadi,STP
Kategori: Penyuluhan Pertanian - Dibaca: 12963 kali

Ditulis Oleh Dian Mirawati,SP (Penyuluh Pertanian Bakorluh Prov. NTB)

 

Salah satu kegiatan dalam Pelaksanaan kegiatan Peningkatan Kapasitas BP3K sebagai Posko Pelaksana Pembangunan Pertanian Tahun 2014 adalah Demplot. Demplot UPT. BKP3 Kecamatan Pringgarata sebagai Posko dilaksanakan di lahan milik kelompoktani “Geger Girang” dengan luas lahan 10 are, komoditas cabe kriting hibrida varietas PM 999, jarak tanam 70cm x 60 cm dan populasi 2380 buah.

Famer feld day (FFD) atau lebih dikenal dengan hari temu lapang petani sekaligus panen perdana yang dilaksanakan bersamaan pada kelompoktani geger girang dengan komoditi cabe kriting hibrida varietas PM 999 pada Kamis 1 Oktober 2014. Hadiri dari Sekretariat Bakorluh Prov. NTB, Kepala Desa Pringgarata, Kepala Bidang Sarana Prasarana BKP3 Kabupaten Lombok Tengah, Penyuluh BKP3 Lombok Tengah, Penyuluh UPT BKP3 Kecamatan Pringgarata, Tokoh Masyarakat/Agama Pringgarata, Kelompoktani geger girang, dan perwakilan kelompoktani se Kecamatan Pringgarata.

Dari pelaksanaan demplot tersebut ada 4 perlakuan utama yang dilakukan yaitu : (1) Pengolah tanah sempurna, (2) Pemakaian mulsa hitam perak, (3) Pemupukan (organik dan anorganik) dan terakhir (4) Pengendalian OPT - PHT. Untuk komoditas cabe hibrida ini dengan luas lahan 10 are, menggunakan bibit sejumlah 10 kg, dengan pemberian pupuk SP36 15 kg, NPK 30 kg, Urea 100 kg dan KNO3, tidak menggunakan pestida hanya menggunakan lem dalam botol sebagai perangkap lalat buah untuk hama penyakit.

Dari hasil diskusi ada beberapa yang dapat disimpulan antara lain:

1. Perencanaan tanam sesuai dengan kebutuhan pasar

Dalam memilih komoditas yang akan ditanam untuk diusahakan oleh petani harus melihat kebutuhan pasar dalam beberapa bulan kemudian, hal ini dikarenakan untuk komoditas pertanian berlaku hukum ekonomi artinya bahwa jika permintaan banyak dengan jumlah komoditi yang tersedia terbatas maka harga akan tinggi/mahal begitu juga sebaliknya jika permintaan sedikit dengan jumlah komoditi yang tersedia banyak maka harga akan rendah. sehingga petani harus jeli dalam menentukan komoditi yang akan dipilih agar tidak mengalami kerugian.

2. Menekan siklus hama dengan salah satunya tumpang sari

Untuk tanaman hortikutura sistem tanamnya bisa ditumpangsarikan (tanaman utama dan tanaman pendamping) yang disesuaikan dengan jenis komoditinya. Misalnya tanaman utama “kedelai” maka tanaman pendamping untuk ditanam dipinggirnya “jagung” artinya tanaman utama tersebut dapat terlindungi dalam dari organism hama penggangu tanaman pendampingnya. Selain itu, tanaman pendamping juga bisa dimanfaatkan dalam kebutuhan ternak dan sebagainya.

3. Penguatan kelembagaan kelompok

Dengan terbentuknya kelembagaan petani (poktan/gapoktan/koperasi/PT) diharapkan dapat menjadi wahana/tempat berkumpul untuk saling bertukar informasi, teknologi dilapangan baik petani/petugas/penyuluh. Selain itu, kelembagaan kelompok dapat meningkatkan kesejahteraan anggota dalam bermitra dengan kelompok lainnya.

4. Perbaikan unsur hara tanah

Kadar organik tanah yang ada di kecamatan pringgarata diperkirakan hanya sekitar 1 %. Hal ini dikarenakan sistem pola tanam masyarakat Padi – Padi – Padi sehingga kebutuhan akan kesuburan tanah sangat rendah dan perlu dilakukan perbaikan/penambahan unsure hara tanah yang dibutuhkan sesuai dengan komoditi tanaman. Salah satunya dengan menggunakan pupuk organik/kompos untuk disebarkan pada lahan petani. Selain itu, merubah menset pola pikir petani dalam sikap, prilaku dan ketrampilan petani.

5. Kebijakan pemerintah

Kebijakan pemerintah pimpinan baik daerah maupun pusat untuk lebih menggarah pada kepentingan petani sebagai pelaku utama dalam melaksanakannya. Sehingga kebijakan tersebut dapat dirasakan secara langsung dari petani, oleh petani dan untuk petani.

 

 



0 Komentar :